Saturday, February 18, 2017

Cara Menyelamatkan Diri Di Akhir Zaman

Cara Menyelamatkan Diri Di Akhir Zaman

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberitahu kita, beliau bersabdaAkan datang masa dimana agama Islam akan kembali menjadi asing sama sebagaimanabermula dalam keadaan asing

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)

Asing bukan berarti aneh. Aneh berarti sesuatu yang tidak berasal dari dunia ini.
Asing berarti masyarakat dan dunia dimana kita hidup, orang-orang akan berpikir bahwa
hidup adalah tentang suatu hal tertentu dan tujuan tertentu, Tapi islam akan kembali
dalam kebenaran dan orang lain akan melihatnya seakan-akan islam dan para pengikutnya
berada dalam jalur yang sangat aneh.

Tapi Rasulullah S.A.W tidak mengatakan ia aneh melainkan asing, Asing bagi manusia.
Manusia akan kehilangan fokus mereka, sementara mereka yang menaati islam akan tetap fokus.

Untuk para pemuda, nasihat berikut Insya Allah bermanfaat bagi kita semua.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Maka beruntunglah bagi orang-orang yang asing” (HR. Muslim).

Saudaraku dalam islam,ketika kita asing, kita melakukan hal tertentu yang sangat berbeda
dengan orang-orang di sekitarmu. Ketika kita terbangun di malam hari sementara orang-orang
masih tidur, kita pun asing. ketika kita bicara tentang mendapatkan keridhaan Allah subhanahuwa
ta'ala dan membuat-Nya sebagai tujuanmu, kita pun asing karena orang lain membuat hal-hal
lain sebagai tujuan mereka.

Ketika orang lain membuat hal lain sebagai tujuan utama mereka, nafsu mereka menjadi tujuan mereka,
kekayaan menjadi tujuan utama mereka, sebuah hubungan menjadi tujuan utama mereka dalam hidup,
jabatan tertentu yang ingin mereka gapai, mereka menjadikan itu tujuan mereka dalam hidup,
dan banyak hal lain maka orang-orang seperti ini belum menjadikan Allah subhanahu wa ta'ala sebagai
tujuan mereka. Apa maksudnya?

Seorang Muslim dapat menjadikan pekerjaan, hubungan, atau hal-hal seperti itu sebagai tujuan dalam hidup, meski begitu, ia tidak boleh mendahului tujuan kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala. apa yang
akan terjadi pada orang yang menjadikan hal lain tujaun utama mereka, dan lupa bahwa Allah subhanahu
wa ta'ala dan akhirat adalah tujuan utama mereka.

Apa yang terjadi pada orang-orang ini?

Ketika seseorang menjadikan keluarga mereka sebagai contoh jadi tujuan utama mereka, dan pekerjaan mereka jadi tujuan utama mereka, lalu mereka kehilangan pekerjaan suatu hari, atau ada anggota keluarga mereka meninggal, apa yang terjadi pada orang yang telah kehilangan tujuan utama mereka dalam hidup?

Mereka ingin bunuh diri, mereka jadi sengsara. mereka merasa tidak ada alasan untuk hidup lagi,
mereka kehilangan jalan dan tujuan mereka dalam hidup karena tujuan utama itu telah hilang.
Ketika pemuda sebagai contoh, menjadikann otot mereka sebagai tujuan utama, dan menjadi sosok tertentu, dan mendapatkan penampilan tertentu, dan mereka menjadikan itu tujuan utama mereka.

shalat menjadi yang kedua, puasa menjadi yang kedua, orangtua mereka menadi yang kedua, dan mereka hanya ingin pergi ke gym tepat waktu, dan jika hal ini hilang, kita melihat orang itu menjadi ingin
bunuh diri terkadang, kita melihat orang ini menjadi sengsara, marah pada orangtua mereka,
marah pada anak-anak mereka, marah pada saudara/saudarinya, marah pada masyarakat,
marah pada islam sendiri, karena mereka berpikir:

"Kenapa shalat menghalangiku dari tujuanku?"
"Kenapa puasa menghalangiku dari tujaunku?"

Saudaraku dalam islam, ketika seseorang menjadikan selain Allah subhanahu wa ta'ala sebagai
tujuan mereka, ini adalah keadaan orang-orang ini. Dan ketika seseorang menjadikan selain
Rasulullah S.A.W sebagai panutan mereka, maka ketika panutan mereka yang telah menggantikan
Rasulullah mengecewakan, mereka juga menjadi sengsara, mereka jadi tidak bahagia.

Saudaraku dalam islam, ketika Allah subhanu wa ta'ala menciptakan kita, Dia menempatkan sesuatu
yang sangat spesial dan berharga dalam dirimu. Hal yang Dia buat kita berharga adalah alasan
kenapa Dia memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada bapak kita Adam 'alaihissalam,
dan berarti mereka juga bersujud kepadamu. Dan iblis menolak karena dia tahu nilaimu. Ruh yang
Allah subhanahu wa ta'ala tempatkan dalam diri kitalah yang membuat kita bernilai, dan ia butuh
dirawat. Dan ruh ini haya punya satu tujuan.

Allah menciptakannya untuk memiliki hubungan yang sangat kuat dengan Allah Yang Menciptanya. Ketika kita merawat ruh ini, kita telah merawat
hubungan kita dengan Allah subhanahu wa ta'ala. Ketika kita merawat ruh ini, maka apapun
yang hilang dari dunia ini, hartamu, rumahmu, hubunganmu dengan seseorang, anggota keluargamu
yang meninggal, edukasi yang tidak dapat kita gapai sesuai tujuanmu, maka kita tahu ada hal
tempatmu kembali, dan itu adalah ruhmu, jiwamu, dimana ketika kita melupakannya, ruhmu mulai
menangis dan berkata:

"Kemana kita membawaku?"
"Kenapa kita tidak merawatku?"
"Kenapa kita hanya memikirkan tubuhmu dan nafsumu, dan kita melupakanku?"
"Kenapa kita hanya memikirkan uang dan melupakanku?"
"Kenapa kita hanya memikirkan ini dan itu, dan melupakan hal yang menghubungimu dengan Allah
S.W.T?"

Jadi, ketika seseorang menjadi sakit dan tidak merawat ruhnya, apa yang terjadi pada mereka?
Mereka menjadi tidak sabar pada waktu tersebut. Mereka menjadi marah kepada orang-orang tercintanya dan mulai menyalahkan Allah subhanahu wa ta'ala sendiri. Saudaraku dalam islam, seorang Muslim akan menjadi orang asing. Dan orang asing berarti ketika orang-orang lain mengikuti tujuan lainnya, kita mengikuti tujuan utama yang membuatmu dapat kebahagiaan didunia ini dan juga diakhirat.

Kebahagiaan ruhmu adalah tujuan yang sangat penting yang menghubungkanmu kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Tapi ketika aku mengikuti nafsuku, dan aku mengikuti tujuan duniawi, apa yang terjadi pada ruhku? ia mati. Ketika aku mengikuti tujuan ini:

"Apa yang terjadi pada Allah subhanahu wa ta'ala dan shalatku, puasaku?"

Ia menjadi yang kedua. Segala hal yang kita duakan selain tujuanmu..
Dan saudaraku, kita adalah hamba dari sesuatu, Setiap orang punya semacam tuhan.
Sebagian menyebutnya "Tuhan", orang lain menyebutnya dengan nama berbeda.
Kita adalah hamba dari sesuatu.

"Apa maksudnya?"

Ketika hal-hal ini mengendalikan hidupmu, mengendalikan waktumu dan menjadikan yang lain jadi kedua, maka ia menjadi Tuhanmu. Jika shalatmu menjadi yang kedua dalam tujuanmu, puasamu menjadi
yang kedua dalam tujaunmu, orang lain yang punya hak atasmu seperti misalnnya orangtuamu menjadi
yang kedua dalam tujuanmu, maka tujuanmu yang utama menjadi Tuhanmu, ialah yang mengendalikan
hidupmu.

Apakah kita tahu apa yang terjadi ketika seseorang menjadikan tujuan lain selain Allah sebagai yang utama?

Ada sebuah perumpamaan, ketika ada sebuah perusahaan Mobil Hitam dan Mobil Putih.
mereka memproduksi mobil. dan kita berkata:

"Jika seseorang bekerja untuk perusahaan Mobil hitam, apakah kita bisa mengharapkan
perusahaan Mobil putih yang membayar kita?"

Jika kita bekerja untuk perusahaan tertentu yang berkompetisi dengan perusahaan lain,
Dan kita mengharapkan perusahaan lain yang memberikan bayaran, apakah itu masuk akal?
Tentu tidak, ini tidak masuk akal. Jadi ketika kita bekerja untuk hal selain Allah
subhanahu wa ta'ala dan rasul-Nya, atau tujuanku bukanlah Allah S.W.T dan panutanku
bukanlah Rasulullah S.A.W, maka terasa adil ketika kita mengharapkan balasannya datang
dari mereka, kita harapkan balasannya datang dari mereka.

Dan hal ini mengingatkan kita pada hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
dimana beliau bersabda:

Abu Hurairah meriwayatkan, ia pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, ”Manusia pertama yang diadili pada hari Kiamat nanti adalah orang yang mati syahid. Orang yang mati syahid didatangkan di hadapan Allah. Kemudian ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya.

Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?”            

Dia menjawab, “Aku berperang demi membela agamamu.”        

Allah berkata, “Kamu bohong.Kamu berperang supaya orang-orang menyebutmu Sang Pemberani.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-NYa. Akhirnya ia dilempar ke neraka.

Seorang penuntut ilmu yang mengamalkan ilmunya dan rajin membaca al-Qur’an didatangkan dihadapan Allah. Lalu ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya.                                                                    
Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?”

Dia menjawab, “Aku menuntut ilmu, mengamalkannnya, dan aku membaca al-Qur’an demi mencari ridhamu.”

Allah berkata,
“Kamu bohong. Kamu mencari ilmu supaya orang lain menyebutmu orang alim, dan kamu membaca al-Qur’an supaya orang lain menyebutmu orang yang rajin membaca al-Qur’an.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-Nya. Akhirnya ia dilempar ke neraka.

Selanjutnya, seorang yang memiliki kekayaan berlimpah dan terkenal karena kedermawanannya, didatang dihadapan Allah. Kemudian ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya.

Allah bertanya,
“Apa yang telah kamu lakukan di dunia?”            
Dia menjawab, “Semua harta kekayaan yang aku punya tidak aku sukai, kecuali aku sedekah karena-Mu.”                                  

Allah berkata, “Kamu bohong. Kamu melakukan itu semua agar orang-orang menyebutmu orang dermawan dan murah hati.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-NYa. Akhirnya ia dilempar ke neraka.

Abu Hurairah berkata, “Kemudian Rasulullah menepuk pahaku seraya berkata, “Wahai Abu Hurairah, mereka adalah manusia pertama yang merasakan panasnya api neraka Jahanam di Hari Kiamat nanti.” (HR. Muslim)

Seorang 'Ulama yang pengetahuannya menjangkau penjuru dunia, dan banyak yang bertaubat
dan menjadi orang yang lebih baik.Dan seseorang dengan hartanya, dan ada orang yang mengorbankan jiwanya,  Allahuakbar! Mereka berakhir sia-sia.

Mengapa?

Karena nama Allah adalah al-Adl. Dia Maha Adil. Dia Penyayang tapi juga Maha Adil.
Jika kita melakukan sesuatu untuk selain Allah subhanahu wa ta'ala, untuk suatu tujuan duniawi,
dan niatmu begitu, maka Allah hanya akan memberimu apa yang kita niatkan.

Sebagian orang menjadi religius hanya ketika mereka ingin menikah, jadi mereka pergi ke ayahnya
dan berpura-pura:

"Lihatlah aku. Masya Allah aku berjenggot, aku memakai peci, aku pergi kemasjid masya Allah."
Mereka berpura-pura, karena apa yang menggerakkannya, yang memotivasinya melakukan itu adalah
cintanya pada gadis ini. Dan dia berpikir gadis itulah wanita yang menjadi bagian fantasinya.
Jadi dia akan melakukan apapun untuk mendapatkannya dan menipu ayahnya, dan keluarganya. Setelah
Menikah, warna mereka sebenarnya baru terlihat.

Jika kita ingin tahu orang seperti apaka dirimu, maka lihatlah dirimu sendiri ketika kita sendirian
dan tidak seorang pun yang melihat. Apakah shalatmu sama nilainya seperti ketika kita shalat
di hadapan orang? Ketika kita berdo'a kepada Allah subhanu wa ta'ala, apakah sama sebagaimana
ketika ada orang melihatmu? Menjadi orang seperti apakah engkita ketikita kita sendirian dalam kegelapan dan hanya Allah yang dapat melihatmu?

"Apakah ini waktu untuk menuruti nafsuku dan memenuhinya? Atau apakah aku tahu bahwa Allah S.W.T mengamatiku bahkan dalam hal paling rahasia sekalipun.?"


Cara Menyelamatkan Diri Di Akhir Zaman - Taman Syariah


0 comments