Friday, March 3, 2017

2 Buah Puisi Cerdas 3 Maret 1924, Oleh : Profesor Fahmi Amhar

PUISI DI TANGGAL 3 MARET

Prof. Dr. -Ing Fahmi Amhar

PUISI PERTAMA 

Bagi banyak manusia
3 Maret adalah hari-hari biasa
Seperti hari-hari lainnya
Padahal itu hari malapetaka dunia

bukan cuma untuk umat Islam saja.
3 Maret 1924 memang telah berlalu lama
Sejak hari itu umat Islam tak lagi punya pemimpin sedunia
Sejak itu mereka tak lagi mampu merahmati alam mayapada

Persatuan umat tinggal fatamorgana
Disekat-sekat nasionalisme negara bangsa.
Tak terbayangkan ada "Jalan al-Khawarizmi" di tengah kita
Karena penemu aljabar itu hidup di Uzbekistan sana

Tak ada juga "Salahuddin al-Ayubi" jadi nama lapangan kita
Karena pengusir tentara Salib itu ada di Mesir sana
Padahal mereka orang-orang hebat nenek moyang kita.
3 Maret 1924 memang gerbang ke tak berdaya

Setelah sekian abad sehasta demi sehasta
Umat Islam mengalami kemunduran jiwa
Ketika mereka mulai takut mati dan makin cinta dunia
Meski jumlahnya bermilyar tapi bagai buih di samudra.

Puluhan juta umat Islam punya tentara bersenjata
Tapi tak mampu membebaskan bumi Palestina
Puluhan juta kilometer persegi negeri kaya sumberdaya
Tapi tak mampu menjadikan umat ini sejahtera

Karena tidak bersatu diatur dalam sistem yang sempurna.
Dunia kini tak memiliki mekanisme yang berhasil guna
Melenyapkan penjajahan dalam segala bentuknya
Mengatasi berbagai krisis yang menghadang di depannya

Menyuruh yang makruf dan mencegah yang munkar di tingkat dunia
Dengan cara-cara berwibawa yang makin dekat kepada-Nya.
Tetapi 3 Maret 1924 bukan akhir segalanya
Allah hadirkan kini orang-orang yang tampak sederhana

Mereka tak pernah bertemu Nabi, tetapi membenarkan kalimatnya
Bahwa khilafah ala minhanjin nubuwwah akan kembali ke dunia
Bahkan meneruskan bisyarah menaklukkan Roma.
Mereka menolak memakai kekerasan apalagi bersenjata

Dan mereka juga tak akan ikut permainan demokrasi utopia
Karena kemunduran jiwa harus diobati dengan pemikiran mulia
Hanya yang sehat isi akalnya akan melakukan perubahan nyata
Dan itulah jalan yang dicontohkan Rasulullah Nabi kita.

Wahai umat yang Muhammad lebih dicintainya
Janganlah hidup kita di dunia yang sementara
Berputar-putar dalam kesibukan semu yang sia-sia

Melanjutkan kehidupan Islam adalah persoalan utama
Yang akan menjadi saksi untuk kita di akherat sana.

PUISI KEDUA

Kalau ide khilafah dianggap ide kotor dan mengotori,
maka mau dibawa kemana kenangan manis ummat ini,
pada Khulafaur Rasyidin dari Abu Bakar hingga Ali,
pada zaman keemasan Bagdad dan Cordova di Andalusi,
juga Khilafah Utsmani saat membantu Aceh di ujung sini,
ketika menghadapi Portugis yang ingin menjajah negeri ini.

Kalau ide khilafah itu ide kotor yang harus dibuang,
mau dibawa ke mana hadits-hadits yang cemerlang,
menyebutkan, bahwa Rasulullah berterus terang, 
-- "Bani Israel diperintah oleh para nabi.  
--  Setiap satu nabi wafat, akan diangkat nabi yang lain.  
--  Namun setelahku tidak ada lagi nabi,  
--  Namun akan ada banyak khalifah silih berganti".
--  "Lalu apa kewajiban kami?" tanya sahabat menantang.
--   "Penuhi bai'at yang pertama", kata nabi dengan tenang.
Bila khalifah mempersatukan, maka mereka akan menang.

Dan kalau ide khilafah itu ide sesat dan menyesatkan,
terus dengan ide apa umat ini akan dibangkitkan?
terus dengan apa agama ini akan dipertahankan?
terus dengan apa missi merahmati alam ini akan disebarkan?
Apakah sekulerisme dan demokrasi yang dianggap kawan?
Siapa sekulerist dan demokrat yang pantas dijadikan teladan?
Siapakah yang sukses dunianya dan di surga bertemu Tuhan?

Kami ingin pencerahan ..
#puisiFahmiAmhar
[Puisi pertama dibuat pada 3 Maret 2016, Puisi kedua dibuat pada 3 Maret 2017.]

0 comments