
GHOUTA, Suriah - Serangan udara mematikan dan tembakan artileri yang berlanjut pada Selasa (20/2) di wilayah kantong Ghouta di Suriah, menewaskan lebih dari 100 orang. Observatorium Suriah guna Hak Asasi Manusia mengaku ratusan korban tewas tersebut menambah jumlah kematian penduduk sipil menjadi 250 orang sekitar 48 jam terakhir.
Data kematian itu adalahlaporan korban tewas sekitar dua hari tertinggi semenjak serangan kimia 2013 di wilayah kantong terkepung tersebut. Observatorium yang berbasis di Inggris mengaku 106 orang tewas dampak pemboman pada Selasa.
Perserikatan Bangsa-Bangsa.(PBB) mengaku enam lokasi tinggal sakit sudah dilanda serangan sekitar dua hari di wilayah kantong pemberontak Suriah. Serangan tersebut mengakibatkan tiga RS tidak berhasil beroperasi dan menewaskan sejumlah orang.
Sekjen PBB Antonio Guterres menyatakan sangat khawati dengan bertambahnya kekerasan di wilayah kantong Ghouta di Suriah sesudah lebih dari 100 penduduk sipil terbunuh pada hari kedua berturut-turut. serangan udara. Guterres mendesak seluruh pihak untuk mendirikan prinsip-prinsip dasar hukum kemanusiaan, tergolong perlindungan penduduk sipil.
Guterres mengingatkan bahwa Ghouta Timur sudah ditunjuk sebagai zona de-eskalasi oleh Rusia, Iran dan Turki. Oleh sebab itu, seluruh pihak mesti memegang komitmennya.
"Sekretaris jenderal sangat cemas dengan kondisi yang bertambah di Ghouta Timur dan dampaknya yang menghancurkan pada penduduk sipil," kata juru bicara PBB Stephane Dujarric.
Serangan udara Suriah dan Rusia menggoncang Ghalda yang dikuasai pemberontak, menewaskan sedikitnya 106 penduduk sipil tergolong 19 anak pada Selasa. Sementara pada hari Senin (19/2), 127 orang terbunuh.
"Hampir 400.000 orang di Ghouta Timur telah merasakan serangan udara, penembakan dan pemboman Dikepung oleh pasukan pemerintah Suriah, warga Ghouta Timur hidup dalam situasi ekstrem, termasuk kelemahan gizi," tambah Dujarric.
Di samping enam RS yang tercatat oleh PBB, menurut keterangan dari Perhimpunan Medis Amerika Suriah, lokasi tinggal sakit utama lainnya terpapar serangan dan berheti melayani pada hari Selasa.
Warga menuliskan tidak ada firasat kehidupan di wilayah Ghouta Timur yang menampung nyaris 400.000 orang terutama sebab kurangnya keperluan dasar, tergolong makanan dan obat-obatan.
"Kami hingga pada titik ketika kami bahkan tidak meninggalkan lokasi tinggal selama penyerbuan ini sehingga andai diserang, kami mati bersama," kata Syams.
Sumber: [AFP/Al Jazeera/U-5]






0 comments