
Saya sudah sibuk melakukan ketaatan, juga mengisi berbagai majlis ta’lim, mengapa saya merasa ‘kering’ spiritualitas saya?
***
Berulang pertanyaan senada dengan
itu diajukan kepada kami, seolah-olah kami lebih baik dari mereka - moga Allah
menjadikan sangkaan mereka benar, kalau tidak benar, moga Allah ubah diri kami
hingga menjadi lebih baik dari yang mereka sangka. Kami memberanikan menulis
ini dalam rangka menasihati diri kami sendiri, juga semoga memberi manfaat bagi
yang lain.
Faktor utama yang menyebabkan
mengapa ketaatan yang dilakukan terasa
‘hambar’, kering, dan tidak terasa nikmat adalah karena dosa yang dilakukan.
Mungkin benar bahwa dosa-dosa
seperti zina, mabuk, makan yang haram, mencuri, korupsi, menipu, liwath
(homoseks) tidak pernah dilakukan, namun kadang orang-orang shaleh sekalipun
terjatuh pada dosa-dosa mulut, terlebih lagi dosa hati.
Diriwayatkan bahwa seorang ahli ibadah dari Bani Israil pernah
bermunajat kepada Allah, setelah itu dia berkata :
يا رب كم أعصيك ولا تعاقبُني؟
“Ya Allah betapa
banyak aku telah bermaksiat kepada-Mu namun Engkau tidak menimpakan balasan
atas diriku”.?
Maka Allah menurunkan wahyu kepada Nabi yang diutus pada zaman
itu :
قل لفلان كم عاقبتُك ولم تشعر؟ ألم أسلُبك حلاوةَ ذكري
ولذةَ مناجاتي؟
“Katakan kepada si
fulan: “betapa banyak balasan yang telah
Aku timpakan kepadamu, sedangkan engkau tidak menyadarinya?. Bukankah Aku telah
mengambil darimu manisnya dzikir
kepada-Ku dan nikmatnya bermunajat kepada-Ku”. (Faidhul Qâdir, 2/141)[1]
Spiritualitas itu soal rasa, yakni
rasa yang tersimpan dalam diri manusia terkait dengan Sang Pencipta, rasa yang
muncul akibat kesadaran terhadap hubungannya dengan Allah (idrâk shillah
billâh). Jika rasa ini mendominasi seorang muslim, maka ia akan senantiasa
hidup dalam suasana iman, baik dia sedang sholat, berdzikir, berdakwah,
menuntut ilmu, termasuk juga ketika dia bekerja, berjual beli, melakukan
perjalanan, dll. Rasa seperti ini akan membuatnya tunduk kepada seluruh syariah
Allah SWT dengan perasaan ridlo dan tenteram, baik syari’ah tersebut terlihat
‘menguntungkan’ dirinya atau terlihat ‘merugikannya’.
Hanya saja rasa seperti ini kadang
dominan, kadang berkurang dan bahkan
bisa hilang. Ini terjadi ketika ada rasa lain yang lebih mendominasi lubuk hati,
yakni ketika kesadaran akan hubungan dengan Al Khaliq dikalahkan oleh
‘kesadaran’ akan hubungan dengan makhluq.
Sebagaimana kopi itu bisa manis
atau pahit tergantung mana yang lebih dominan. Jika gula lebih dominan dari
kopi, maka manislah yang terasa, sebaliknya jika kopi lebih dominan daripada
gula, pahitlah rasanya, begitu pulalah keadaan ruhiyah (spiritualitas)
seseorang, akan terasa kering jika ‘kesadaran’ akan hubungan dengan makhluq
lebih dominan daripada kesadaran akan hubungannya dengan Al Khaliq,
Allah ‘Azza wa Jalla.
Ketika kesadaran akan hubungan
dengan Allah tidak dominan, atau bahkan hilang pada diri seseorang, maka
banyaknya ibadah, aktivitas dakwah, dan berbagai aktivitas ketaatan lainnya
bisa melahirkan perasaan ‘ujub (merasa besar dan berbangga diri), lalu
meremehkan orang lain. Hilang kesadarannya bahwa ketaatan yang dia lakukan
adalah semata-mata terjadi karena karunia Allah, lupa bahwa belum tentu yang
dilakukannya diterima Allah, dan ini termasuk dosa hati.
Rasa lain yang juga bisa
mendominasi, hingga bisa ‘mengeringkan’ spiritualitas seseorang adalah perasaan
bahwa dia telah berjasa, baik terhadap dakwah, maupun terhadap orang lain, merasa bahwa tanpa
dirinya maka Islam akan sulit berkembang, dengan ketaatan dan aktivitas
dakwahnya dia merasa telah memberikan kesenangan dan kebahagiaan kepada orang lain,
baik itu muridnya maupun guru (musyrif)nya.
Allah
menegur perasaan seperti ini, dengan firman-Nya:
يَمُنُّونَ عَلَيْكَ
أَنْ أَسْلَمُوا قُلْ لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمْ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ
أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Mereka
merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah:
"Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu,
sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu
kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar” (QS. Al
Hujurât: 17)
Ayat ini
terkait dengan Arab Badui yang masuk Islam, lalu membantu perjuangan
Rasulullah. Tidak diragukan lagi bahwa keislaman dan bantuan mereka tentu
sangat menggembirakan Rasulullah dan orang-orang yang beriman, sebagaimana kita
juga tentu gembira jika ada orang yang tercerahkan, ini adalah fakta. Hanya saja
Allah tetap menegur mereka, bukan karena keislaman dan bantuan mereka, namun
karena perasaan mereka yang tidak tepat, seharusnya harus merasa bahwa
merekalah yang telah mendapat karunia dan nikmat Allah dengan tertunjukinya
mereka kedalam Islam, bukan sebaliknya.
Oleh sebab
itu, ketika kita merasakan ‘kekeringan’ spiritual, padahal sudah banyak
aktivitas ketaatan (fisik) yang kita lakukan, maka yang seharusnya dilakukan
bukanlah dengan mengurangi ketaatan tersebut, namun yang dilakukan adalah lebih
banyak merenungi diri, mencermati diri kita sendiri, sudahkah semua yang kita
lakukan itu didominasi oleh kesadaran kita akan hubungan kita dengan Allah,
ataukah ada unsur lain yang mendominasi aktivitas kita, seperti ingin dikenal,
mengejar popularitas, melakukan sesuatu hanya karena terpaksa karena tidak enak
dengan teman, atau merasa bahwa tanpa kita dakwah tidak akan berkembang.
Jika kita merenungi
diri, insya Allah perasaan-perasaan tersebut akan sirna, tergantikan oleh rasa syukur
kepada Allah, rasa penuh harap akan ampunan-Nya
karena hati kita kadang lalai saat menghadap-Nya, sekaligus rasa takut
kepada-Nya karena ketidaktahuan kita apakah Dia ridha atau tidak.
Inilah yang
terungkap dari para ‘ulama yang shalih ketika mereka merenungi diri mereka.
Imam al Hasan al Bashri (w. 110 H) misalnya, beliau ‘mencela’ dirinya sendiri
ketika merenung, dengan mengatakan:
تتكلمين بكلام الصالحين القانتين العابدين،
وتفعلين فعل الفاسقين المنافقين المرائين، والله ما هذه صفات المخلصين
“engkau
berbicara dengan perkataan orang-orang shalih, ta’at dan ahli ibadah, sementara
prilakumu adalah prilaku orang fasiq, munafiq, dan suka pamer, demi Allah, ini
bukanlah sifat orang-orang yang ikhlas” (Ghoutsun Naf’i fi Qirô’âtis Sab’i, hal 655.
Maktabah Syamilah).
Imam an Nawawi (w. 676 H), ketika
mengetahui akan didatangi penguasa bada hari beliau mengkaji ilmu, maka beliau
membatalkan kajiannya pada hari itu karena khawatir penguasa melihat beliau
sedang dalam pertemuan kajian (karena akan sulit menata hati ketika majelisnya
disaksikan oleh pembesar negara).
Al Anthoky mengatakan:
من طلب الإخلاص في أعماله الظاهرة وهو يلاحظ
الخلق بقلبه فقد رام المحال
“barang siapa
menginginkan keikhlasan dalam amal-amalnya yang nampak, sementara hatinya
memandang kepada makhluq, maka sungguh dia menghendaki hal yang mustahil” (Ghoutsun Naf’i fi Qirô’âtis
Sab’i, hal 656)
Memang berat melakukan ‘olah rasa’,
namun tidak ada cara lain selain berupaya, senantiasa menengok hati kita
sendiri, adakah di sana sifat-sifat tercela itu?, jika ada, berusahalah kita
menghilangkannya, atau mintalah Allah ‘menggantinya’ dengan hati yang baru,
jika tidak ada, periksalah ulang, jangan-jangan kita saja yang tidak merasa.
Allâhu A’lam. [MTaufikNT]
[1] Imam al
Munawi (w. 1031 H), Faidhul Qadir, 2/141. Riwayat
semakna juga ada di Hilyatul Awliya’ karya Abu Nu’aim, dan Shaidul Khatir karya
Ibnul Jawzi. Maktabah Syamilah.
Baca Juga:
- Serius dalam Beraktivitas
- Islam Moderat
- Sabar Dalam Ketaatan
- Berlaku Adil
- Radikalisme Berbasis Agama
- Kebohongan di Era ‘Jahiliah’ Modern
- Polaritas Sektarian: Daur Ulang Fitnah Kepada Hizbut Tahrir
- Isteri Berzina (Selingkuh), Wajibkah Diceraikan
- Belajar Bertawakkal






0 comments